modulajarku.com – Ketika anak-anak di kelas 1 SD mulai belajar mengenal dunia, seni teater menjadi jendela ekspresi yang penuh warna. Mereka berlatih berbicara, meniru tokoh, mengekspresikan perasaan, dan belajar memahami emosi orang lain.
Kini, dengan hadirnya Kurikulum Merdeka dan Capaian Pembelajaran (CP) 2025/2026, pendekatan pembelajaran teater menjadi lebih menarik berkat integrasi konsep deep learning sebuah metode yang mengajak siswa berpikir mendalam dan memahami makna dari setiap peran yang mereka mainkan.
Bayangkan sekelompok siswa kecil sedang berlatih drama sederhana berjudul “Aku dan Lingkunganku”. Mereka tidak hanya menghafal dialog, tapi juga belajar memahami karakter, mengenali emosi, serta menciptakan ide baru dengan bantuan aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Inilah semangat baru pendidikan seni di era digital: kombinasi antara rasa, ekspresi, dan teknologi.
Untuk mendapatkan contoh Modul Ajar Deep Learning Seni Teater untuk Kelas 1 SD/MI, di bawah ini kami sediakan selengkap mungkin. Jika membutuhkan, silahkan unduh melalui tautan yang kami sediakan:
Dalam konteks pendidikan, deep learning bukan hanya algoritma komputer, melainkan pendekatan pembelajaran yang mendalam, reflektif, dan penuh makna. Untuk anak usia dini, metode ini membantu mereka menggali potensi kreatif secara alami.
Menurut hasil penelitian UNESCO (2023), pembelajaran seni berbasis teknologi terbukti meningkatkan empati, kemampuan bahasa, dan kolaborasi sosial anak-anak.
Ketika diterapkan dalam pembelajaran teater, deep learning memungkinkan siswa untuk tidak hanya “bermain peran”, tetapi juga memahami pesan moral dan konteks sosial dari cerita yang dibawakan.
Guru dapat menggunakan AI untuk membantu proses tersebut. Misalnya, aplikasi suara dapat membantu anak melatih intonasi, ekspresi wajah dapat dikenali oleh kamera untuk memberi umpan balik otomatis, dan generator cerita berbasis AI dapat membantu anak menciptakan naskah mini sesuai imajinasi mereka.
Pendekatan ini sejalan dengan tujuan CP 2025/2026 yang menekankan pembelajaran yang memerdekakan, kreatif, dan berbasis kompetensi.
Modul ajar ini dirancang untuk mendukung capaian pembelajaran yang mengutamakan:
Dengan pendekatan deep learning, setiap kegiatan di dalam kelas tidak berhenti pada latihan hafalan, tetapi dilanjutkan dengan eksplorasi makna dan refleksi diri.
Struktur modul ajar ini disusun agar mudah digunakan oleh guru dan tetap menarik bagi siswa kelas awal. Berikut komponennya:
Identitas Modul
Capaian Pembelajaran (CP 2025/2026)
Tujuan Pembelajaran Spesifik
Kegiatan Pembelajaran
A. Pendahuluan (10 menit)
Guru membuka kelas dengan cerita interaktif. Misalnya, tentang binatang yang bekerja sama menjaga hutan. Lalu siswa diminta menebak peran masing-masing tokoh.
B. Eksplorasi (30 menit)
Siswa menggunakan aplikasi pembuat cerita anak (seperti “Toontastic” atau “AI Story Creator”) untuk membuat alur drama sederhana. Guru membantu memilih karakter, suasana, dan konflik cerita.
C. Kolaborasi dan Latihan (40 menit)
Setiap kelompok berlatih mengekspresikan dialog dan emosi tokoh. AI dapat digunakan untuk menilai nada suara atau ekspresi wajah mereka. Misalnya, aplikasi bisa memberi umpan balik: “Bagus! Coba lebih bersemangat saat marah.”
D. Pementasan Mini (20 menit)
Setiap kelompok menampilkan drama singkat di depan teman-teman. Guru merekam penampilan mereka untuk ditinjau kembali di sesi refleksi.
E. Refleksi dan Penilaian (20 menit)
Siswa menceritakan perasaan mereka selama bermain peran. Guru memandu refleksi dengan pertanyaan seperti: “Apa yang kamu rasakan saat menjadi tokoh itu?”
Asesmen dan Umpan Balik
Guru juga dapat menggunakan fitur analisis sederhana dari AI untuk menilai perkembangan ekspresi suara atau pilihan kata siswa dari waktu ke waktu.
Di SD Islam Terpadu Cendekia Bandung, guru seni bernama Bu Hani mencoba menerapkan Modul Ajar Deep Learning Seni Teater ini. Ia mengajak murid kelas 1 membuat pertunjukan mini berjudul “Pelangi di Sekolahku”.
Awalnya, anak-anak malu-malu. Namun setelah menggunakan aplikasi AI yang bisa membantu membuat naskah pendek, mereka mulai berani mengimprovisasi. Salah satu siswa bernama Lala berkata, “Bu, AI-nya bantuin aku bikin kata-kata lucu!”
Setelah pementasan, guru dan siswa bersama-sama menonton ulang video latihan mereka. Mereka belajar memahami bagaimana ekspresi bisa menggambarkan perasaan tokoh. Dari situ, kemampuan berbahasa dan empati anak meningkat signifikan.
Penelitian internal sekolah menunjukkan bahwa 8 dari 10 siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis teater dan AI menunjukkan peningkatan dalam keterampilan komunikasi dan keberanian berbicara di depan umum.
Kecerdasan buatan dalam pembelajaran seni tidak berarti menggantikan peran guru. Justru AI menjadi asisten belajar yang membantu memberikan pengalaman lebih interaktif. Beberapa contoh penerapannya antara lain:
Semuanya dapat digunakan secara bertahap sesuai usia siswa, dengan pengawasan guru agar tetap aman dan etis.
Untuk panduan lebih lengkap, guru bisa membaca artikel terkait seperti Modul Ajar Deep Learning Seni Musik Kelas 2 SD/MI dan Panduan Implementasi CP 2025/2026 Seni Budaya di situs modulajarku.com sebagai referensi lanjutan.
Beberapa guru mungkin khawatir dengan keterbatasan teknologi di sekolah dasar, terutama di daerah. Namun sebenarnya, pembelajaran deep learning tidak selalu membutuhkan perangkat canggih. Prinsip utamanya adalah mendalamkan proses berpikir dan makna pembelajaran.
Guru dapat memulai dengan:
Dengan strategi ini, pembelajaran tetap relevan dan menyenangkan, tanpa membebani infrastruktur sekolah.
Bagi siswa, pembelajaran teater berbasis deep learning membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir reflektif, empati sosial, dan keberanian. Mereka belajar memahami dunia bukan hanya lewat angka dan huruf, tetapi juga lewat perasaan dan pengalaman.
Bagi guru, modul ini memudahkan penyusunan pembelajaran kreatif yang sesuai dengan CP 2025/2026. Pendekatan ini juga mendukung Profil Pelajar Pancasila—khususnya pada dimensi kreatif, mandiri, dan bernalar kritis.
Selain itu, integrasi AI membuat pembelajaran lebih efisien karena guru bisa mendapatkan analisis perkembangan siswa dengan cepat.
Modul Ajar Deep Learning Seni Teater Kelas 1 SD/MI sesuai CP 2025/2026 adalah wujud nyata inovasi pembelajaran seni di era digital. Dengan menggabungkan kreativitas anak dan teknologi kecerdasan buatan, guru dapat menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif, mendalam, dan bermakna.
Melalui pendekatan ini, anak-anak tidak hanya belajar berakting, tetapi juga memahami emosi, membangun rasa percaya diri, dan belajar menghargai perbedaan. Di masa depan, generasi ini akan tumbuh menjadi pribadi yang komunikatif, reflektif, dan berjiwa seni.
Untuk guru yang ingin mendapatkan contoh modul lengkap dan panduan penerapannya, kunjungi modulajarku.com. Karena masa depan pembelajaran seni dimulai dari kelas yang hidup dan dari setiap anak yang berani bermimpi di atas panggung kecilnya sendiri.
Jika anda merasa mendapatkan manfaat, jadilah aliran rezeki dengan berdonasi untuk kemajuan website ini, silahkan kirimkan ke:

Terima kasih atas partisipasinya, semoga menjadi keberkahan bagi kami dan Anda semua.