Perangkat Ajar Deep Learning Bahasa Jawa Kelas 3 SD/MI Kurikulum Merdeka

modulajarku.com – Perkembangan Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran 2025/2026 mendorong sekolah untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis Deep Learning, termasuk pada mata pelajaran Bahasa Jawa.

Pada jenjang SD/MI kelas 3, pembelajaran bahasa daerah memiliki peran penting dalam penguatan literasi budaya, pelestarian kearifan lokal, serta pembentukan identitas kebangsaan.

Oleh karena itu, perancangan perangkat ajar yang selaras dengan Capaian Pembelajaran terbaru menjadi kebutuhan utama bagi guru, satuan pendidikan, dan penyusun modul ajar di berbagai daerah.

Artikel ini membahas komponen utama perangkat ajar Deep Learning Bahasa Jawa Kelas 3 SD/MI, karakteristik pembelajaran, struktur materi, contoh alur tujuan pembelajaran, serta strategi asesmen yang relevan.

Pembahasan disusun berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah, pendekatan pedagogis terkini, dan kebutuhan pembelajaran peserta didik usia 8–9 tahun.

Download Perangkat Ajar Deep Learning Bahasa Jawa Kelas 3 SD/MI Kurikulum Merdeka

Bagi yang membutuhkan perangkat ajar Bahasa Jawa untuk Kelas 3 SD/MI silahkan unduh melalui tautan yang kami sediakan di bawah ini:

Pembelajaran Deep Learning dalam Kurikulum Merdeka menekankan pemahaman mendalam, kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta integrasi nilai budaya. Oleh karena itu, perangkat ajar yang disusun harus memuat elemen berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, dan aktivitas literasi bahasa daerah.

Pembelajaran Bahasa Jawa Kelas 3 diharapkan memfasilitasi peserta didik untuk mampu memahami teks lisan sederhana, membaca aksara Jawa dasar, mengaplikasikan kosakata unggah-ungguh, dan mengekspresikan diri secara sopan dalam komunikasi sehari-hari.

Penelitian linguistik pendidikan dari berbagai sumber menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa daerah pada usia sekolah dasar memperkuat struktur kognitif bahasa pertama, membantu pembentukan memori jangka panjang, serta menumbuhkan rasa percaya diri dalam berkomunikasi. Karena itu, perangkat ajar deep learning untuk Bahasa Jawa harus memuat tahapan penguatan memori semantik, asosiasi visual, latihan fonetik, dan aplikasi konteks sosial budaya.

Pembelajaran Bahasa Jawa pada jenjang kelas 3 melibatkan karakteristik perkembangan peserta didik yang berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini, menurut teori Jean Piaget, anak belajar lebih efektif melalui pengalaman langsung, contoh nyata, dan kegiatan simbolik sederhana seperti membaca aksara dasar. Hal ini mendukung penerapan deep learning yang menekankan aktivitas eksplorasi dan pemahaman bermakna.

Peserta didik kelas 3 juga mulai mampu mengevaluasi perilaku diri serta menerima konsep unggah-ungguh dalam komunikasi. Oleh sebab itu, perangkat ajar perlu memuat aktivitas dialog, role-play, dan pembiasaan tutur santun dalam Bahasa Jawa.

Kurikulum Merdeka tahun ajaran 2025/2026 menetapkan Capaian Pembelajaran (CP) terbaru untuk Bahasa Jawa pada jenjang Fase A–B. Untuk kelas 3, pembelajaran difokuskan pada beberapa kompetensi berikut:

  1. Peserta didik mampu memahami dan merespons teks lisan sederhana dalam Bahasa Jawa terkait kehidupan sehari-hari.
  2. Peserta didik mampu membaca dan menulis aksara Jawa dasar seperti ha, na, ca, ra, ka.
  3. Peserta didik memahami penggunaan unggah-ungguh basa krama dan ngoko dalam situasi tertentu.
  4. Peserta didik dapat menghasilkan teks sederhana seperti deskripsi, dialog singkat, atau cerita rakyat.
  5. Peserta didik menunjukkan apresiasi terhadap budaya Jawa melalui lagu dolanan, peribahasa, dan tradisi lokal.

Dengan memahami kompetensi tersebut, guru dapat menyusun perangkat ajar yang selaras dan komprehensif.

Perangkat ajar Deep Learning membutuhkan tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur. Berikut contoh alur tujuan pembelajaran Bahasa Jawa kelas 3:

  1. Peserta didik dapat mengenali kosakata Bahasa Jawa terkait benda di kelas dan rumah.
  2. Peserta didik dapat menggunakan kosakata tersebut dalam kalimat sederhana.
  3. Peserta didik memahami perbedaan penggunaan unggah-ungguh krama dan ngoko.
  4. Peserta didik dapat melakukan percakapan sederhana dengan unggah-ungguh yang tepat.
  5. Peserta didik dapat membaca aksara Jawa dasar ha-na-ca-ra-ka.
  6. Peserta didik dapat menulis kembali aksara dasar dalam bentuk kata sederhana.
  7. Peserta didik mampu menyimpulkan isi teks cerita dolanan Jawa.
  8. Peserta didik mampu mempresentasikan kembali cerita rakyat Jawa secara lisan.

Tujuan yang terstruktur memudahkan guru merancang pembelajaran yang mendalam dan sesuai perkembangan kognitif siswa.

Pembelajaran deep learning membutuhkan materi yang berjenjang, mendalam, dan berbasis konteks. Untuk Bahasa Jawa kelas 3, struktur materi dapat mencakup:

A. Kosakata Tematik Bahasa Jawa

  1. Bagian tubuh
  2. Benda di sekitar
  3. Kegiatan harian
  4. Lingkungan sekolah
  5. Unggah-ungguh dalam interaksi sosial

B. Pengantar Unggah-Ungguh

  1. Krama
  2. Ngoko
  3. Situasi penggunaannya

C. Teks Lisan dan Tulisan

  1. Cerita rakyat pendek
  2. Cerita dolanan (tembang, teka-teki, paribasan)
  3. Teks deskriptif tempat atau benda

D. Aksara Jawa Dasar

  1. Bentuk aksara ha-na-ca-ra-ka
  2. Cara membaca
  3. Cara menulis dalam konteks kata

E. Kearifan Lokal

  1. Upacara adat
  2. Pakaian tradisional
  3. Kuliner khas daerah

Pembelajaran yang terstruktur memungkinkan siswa membangun pemahaman konseptual yang kuat melalui integrasi bahasa, budaya, dan konteks sosial.

Penerapan strategi deep learning dalam perangkat ajar Bahasa Jawa perlu menggunakan metode pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan mendorong rasa ingin tahu. Beberapa strategi yang relevan meliputi:

  1. Pembelajaran berbasis masalah
    Guru memberikan masalah nyata, misalnya bagaimana menyapa orang dengan unggah-ungguh yang tepat. Siswa mencari solusi melalui diskusi dan simulasi percakapan.
  2. Pembelajaran berbasis proyek
    Siswa membuat poster aksara Jawa, kamus mini Bahasa Jawa, atau presentasi tentang cerita rakyat daerah.
  3. Pembelajaran kolaboratif
    Kelompok siswa berdiskusi memecahkan teka-teki dolanan Jawa, membaca cerita pendek, atau melakukan role-play.
  4. Pembelajaran berbasis literasi
    Guru menyediakan teks berjenjang seperti cerita rakyat bergambar untuk melatih pemahaman makna.
  5. Pembelajaran kontekstual budaya
    Siswa diperkenalkan pada pakaian adat, upacara adat, atau lagu tradisional melalui video dan aktivitas praktik.

Kegiatan deep learning harus mendorong siswa untuk mengeksplorasi, memahami, dan menghasilkan karya secara mandiri.

Perangkat ajar harus menyertakan aktivitas pembelajaran yang rinci. Berikut contoh aktivitas untuk beberapa materi:

A. Kosakata Tematik
• Mengamati benda di kelas, menyebutkan namanya dalam Bahasa Jawa.
• Menyusun kalimat sederhana menggunakan kosakata yang telah dipelajari.
• Mengidentifikasi perbedaan kosakata krama dan ngoko.

B. Unggah-Ungguh
• Simulasi menyapa guru, teman, dan orang tua.
• Role-play situasi di pasar, sekolah, atau rumah.

C. Teks Rakyat dan Dolanan
• Membaca cerita rakyat bergambar dan menjawab pertanyaan inferensial.
• Menyanyikan lagu dolanan seperti Gundul-Gundul Pacul atau Sluku-Sluku Bathok.
• Mengidentifikasi pesan moral dari cerita.

D. Aksara Jawa
• Menebalkan aksara dasar pada lembar kerja.
• Menyalin aksara dalam bentuk kata sederhana.
• Permainan kartu aksara untuk mencocokkan simbol dan bunyinya.

Aktivitas yang beragam memberi kesempatan siswa untuk belajar melalui berbagai gaya belajar.

Asesmen dalam Kurikulum Merdeka menekankan penilaian autentik. Berikut komponen asesmen dalam perangkat ajar deep learning:

  1. Asesmen Formatif
    • Kuis lisan kosakata
    • Pengamatan keterampilan membaca aksara
    • Penilaian proses dalam kegiatan proyek
  2. Asesmen Sumatif
    • Tes tertulis sederhana mengenai aksara dan kosakata
    • Tes membaca cerita rakyat
    • Uji praktik percakapan menggunakan unggah-ungguh
  3. Portofolio
    • Kumpulan karya proyek siswa
    • Catatan refleksi penggunaan Bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari
  4. Rubrik
    • Rubrik pemahaman cerita
    • Rubrik kelancaran membaca
    • Rubrik komunikasi sopan dalam unggah-ungguh

Dengan asesmen autentik, guru dapat memantau perkembangan siswa secara menyeluruh.

Integrasi teknologi dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran Bahasa Jawa kelas 3. Guru dapat memanfaatkan:

  1. Aplikasi digital untuk mengenal aksara Jawa
  2. Video animasi cerita rakyat daerah
  3. Bank soal interaktif untuk latihan kosakata
  4. Audio unggah-ungguh dan dialog sederhana

Penggunaan media digital membantu siswa memahami materi secara visual dan auditif, terutama bagi yang memiliki preferensi belajar multisensori.

Pembelajaran Bahasa Jawa merupakan bagian penting dalam pelestarian budaya Nusantara. Dengan adanya Kurikulum Merdeka dan CP 2025/2026, sekolah didorong untuk menerapkan pembelajaran mendalam melalui perangkat ajar yang sistematis dan kontekstual.

Guru dapat memanfaatkan contoh struktur perangkat ajar, tujuan pembelajaran, materi, aktivitas, dan asesmen dalam artikel ini untuk menyusun perangkat ajar yang lebih komprehensif. Pendekatan deep learning memungkinkan peserta didik memahami bahasa dan budaya Jawa secara bermakna, tidak sekadar menghafal, tetapi juga menerapkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai unggah-ungguh yang baik.

Dengan perangkat ajar yang berkualitas, maka pembelajaran Bahasa Jawa kelas 3 SD/MI akan menjadi pengalaman edukatif yang menyenangkan, bermakna, dan relevan bagi generasi muda dalam menjaga kelestarian budaya daerah.

Jika anda merasa mendapatkan manfaat, jadilah aliran rezeki dengan berdonasi untuk kemajuan website ini, silahkan kirimkan ke:

Terima kasih atas partisipasinya, semoga menjadi keberkahan bagi kami dan Anda semua.

Modul Ajar Terkait
PROTA Geografi Kelas 10 SMA/MA

PROTA Geografi Kelas 10 SMA/MA

PROSEM Geografi Kelas 10 SMA/MA

PROSEM Geografi Kelas 10 SMA/MA

KKTP Geografi Kelas 10 SMA/MA

KKTP Geografi Kelas 10 SMA/MA

CP Geografi Kelas 10 SMA/MA

CP Geografi Kelas 10 SMA/MA

ATP Geografi Kelas 10 SMA/MA

ATP Geografi Kelas 10 SMA/MA

PROTA Fisika Kelas 12 SMA/MA

PROTA Fisika Kelas 12 SMA/MA